Sepertinya aku bakal sering menuangkan pikiran ku di sini. Semakin ke sini semakin paham bahwa aku butuh untuk meluapkan segalanya seharian ini. Pernah sering kali update story di instagram, tapi setelah itu rasanya seperti over sharing dan terlalu banyak orang yang tau, meskipun sepertinya mereka juga tidak terlalu peduli dengan stroy instagram ku wkwkwkkw. Tunggu, aku tetap mengucapkan terima kasih kepada mereka yang masih memberi respon positif dan bahkan ada yang sampai kangen aku ehehehehe. Pernah juga aku bacot di twitter, tapi sepertinya juga terlalu banyak mengeluh kalau di twitter ahahahaha. I dont know. Instagram terkesan pamer, dan twitter terkesan tempat sampah. Yang jelas kedua sosmed tersebut juga melihat / membaca dari akun teman2, akun orang lain, sampai akhirnya muncul rasa membandingkan, dan kok seperti tidak menikmati hidupku. Kedistraksi dari akun2 quotes, aduh lah pusing, gak sedikit mereka itu sotoy, dan cuma cari validasi untuk pembenaran, bukan cari kebenaran, halah halah
Update story di whatsapp juga aneh, rasanya combo. Pamer iya, mengeluh iya. Mana circle di whatsapp itu real life sekali. Iyuuuhhhhh. Tapi suka gila kalau update storynya pake meme awokwoakwok. Tapi enak, bisa dilist siapa aja yang bisa liat story, ehe.
Menulis diary, sudah. Journaling, tapi cape nulis tangan hahahaha, tapi hampir setiap hari kutulis, apalagi kalau banyak pikiran, harus diurai satu-satu, itu ngbantu banget sih. Bahkan kalau lagi gila, seharian cuma menatap diary, nulis sambil nangis, ketiduran, nulis lagi sambil nangis. Hobi sekali bermuhasabah diri, reflecting, tapi perilaku kok kayaknya gini-gini aja ya, hikz.
Cerita dengan orang lain, sudah juga. Saat di Medan ini aku menemukan orang yang nyambung kalau cerita macam-macam. Bahkan pernah ada masa kami sefrekuensi, kek lagi gabut ya telpon. Kek gak bisa bisa tidur ya telpon. Padahal stiap hari kami ketemu langsung, banyak cerita juga. Cerita tentang masa lalu atau gibah. Sekarang gak lagi, karena sudah punya kesibukan baru, dia, bukan aku. Waktu berjalan, ada masa hampir tiap malam video call dengan kakak ku, dengan teman ku di Semarang. Segalanya cerita, bahkan pernah cuma diem-diem aja. Tidak ada yang mau diceritakan, tidak mood untuk cerita dan sepertinya tidak tepat untuk diceritakan kepada mereka, akhirnya diem, melakukan aktivitas masing2 sambil sesekali komunikasi gak jelas. Yah memang tidak semuanya harus diceritakan ke manusia. Liat konteks, liat siapa, liat urgency, mereka pun punya masalah, punya kesibukan tersendiri.
Aku pernah bilang ke seseorang: kalau ada yang mau diceritakan, cerita aja. Dan dijawab: gak cerita ke manusia. OKE, AND NOW I KNOW THAT'S WHY. THANKS.
Tidak sedikit dari mereka juga yang menikah memiliki misi untuk punya teman cerita. Apa pun itu merasa aman dan nyaman untuk diceritakan ke pasangan. Walau beberapa dari mereka ya gak semua cerita ke pasangan, merasa itu malah jadi menambah pikiran pasangan, ya ada. Tapi kalau kata teori pernikahan, cerita semua ke pasangan itu lebih baik. Ya semoga kita bisa menjadi pasangan yang baik untuk pasangan kita ya. Yang aman dan nyaman, dapat dipercaya untuk menjadi pendengar dan memahami cerita. GAK JUDGING!
Banyak juga mereka yang nyaman untuk meceritakan segalanya dengan orang tuanya, ayahnya, ibunya. Keren sekali.
Pernah test stifin, hasilnya Thinking Ekstrovert, that's why apa-apa harus dipikir, harus didiskusiin. Dan secara sains, perempuan harus meluapkan paling tidak DUA PULUH RIBU kata setiap harinya. hmm see?
Tapi, asli deh lebih suka kalau mau cerita itu karena ditanyain dulu.
Tapi, apakah bisa cerita dengan jujur?
Mendengar kejujuran tentang kesalahan, lebih bisa diterima walau mungkin reaktif di awal seperti shak shik shok. Tapi kalau bohong, swear deh itu yang bikin ilfill. Mendengar kejujuran, rasanya seperti sini itu diakui juga, diakui kalau sini itu hadir dalam kehidupannya. Terbuka adalah hal yang mahal. Terbuka adalah tanda kepercayaan. Paling tidak itu membantu untuk mereka sendiri. Secara tidak langsung mereka berani jujur terhadap diri sendiri lho. So proud of you who do this.
Dan satu hal lagi, sebagai penampung cerita, apakah bisa amanah untuk menjaga cerita-cerita tersebut? Tidak disebarkan biar tidak jadi aib? Atau malah jadi bingung dan mendiskusikan dengan orang lain lagi? Takut.
Contohnya tadi diskusi sama H.
Gebetannya bilang kalau udah gak pernah rokok sejak pindah. Tapi H mendapati gebetannya rokok saat di suatu acara. Teman mereka pun bilang kalau di suatu acara lain gebetennya rokok bersama teman itu. Hmm
Contoh di aku. Aku bilang ke teman ku (cowo): dah ya kita harus jaga jarak, karena kita cuma teman, kita fokus dengan tujuan masing-masing. And you know what? Temenku (cewe) bilang kalau ini cowo cerita ke temennya (cewe juga, lagi pdkt) bahwa: cowo ini bilang ke aku buat jaga jarak. HAH?
AUTO KECEWA PEMIRSA. Gak usah pk kata-kata gue buat bohong buat jadi bahan sesi pdkt kalian woy! Kan jadinya kek diputarbalikan fakta :(
Awal-awal langsung ilang respek, gak mau ngobrol sama sekali selama 2 bulan. Mau ngobrol sepenting aja. Yah, gak bisa juga, lama-lama bisa ngobrol biasa, tapi masih gedek :(
Begitu lah. Kalau cerita di sini sebenernya pengin ngajak buat diskusi juga hahahaha, tanpa kedistrak akun2 lain. Sebagai refleksi juga. Latihan menulis. Penginnya pakai Bahasa Inggris.
Karena apa? Tadi sore dapet feedback dari mr mahmud, mock test ielts writing ku dapat 5 hahahahahahaha GAK PAHAM PERTANYAANNYA SIR :(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar